Alasan Mengapa Motivator Tidak Relevan
/ 10 min read
Updated:Daftar Isi
Alasan kenapa motivator tidak relevan
di era sekarang ini, banyak sekali bermunculan motivator-motivator yang menawarkan berbagai janji untuk mengubah hidup seseorang menjadi lebih baik. Cuman, saya merasa bahwa banyak dari motivator ini tidak relevan dengan kebutuhan dan realitas yang dihadapi oleh orang-orang pada saat ini. Berikut adalah beberapa alasan mengapa saya berpendapat demikian.
ada beberapa alasan utama kenapa saya merasa motivator tidak relevan:
- Slogan-slogan kosong yang kedengarannya keren
- Menjual kisah dramatis tanpa konteks lengkap
- Optimisme palsu yang membungkam kenyataan
- Mengabaikan faktor-faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol
- Menyasar orang-orang hopeless sebagai coping mechanism
- Fokus pada kesuksesan, bukan pembelajaran dari kegagalan
disclaimer: ini adalah opini pribadi saya berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya terhadap fenomena motivator di masyarakat. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan atau menyudutkan siapapun, tapi hanya ingin menyampaikan pandangan saya tentang mengapa saya merasa banyak motivator tidak relevan dengan kebutuhan dan realitas yang dihadapi.
Slogan-slogan kosong yang kedengarannya keren
“Yang penting pede!” “Yang penting mindset!” “Tidak ada yang nggak mungkin di dunia ini!”
Kalimat-kalimat seperti ini seringkali dijadikan mantra oleh para motivator. Kedengarannya memang bagus dan bikin semangat, tapi kalau dipikir-pikir, apa sih artinya? Ini cuma slogan kosong yang nggak ngasih arahan sama sekali. Pede itu penting, tapi pede tanpa skill ya percuma. Mindset itu penting, tapi mindset doang tanpa action ya nggak ada hasilnya.
Mereka juga suka banget pakai analogi-analogi yang terdengar puitis tapi nggak jelas maknanya. “Sukses itu seperti roda yang berputar,” “Sukses itu seperti bunga yang mekar.” Terus? Apa yang harus gw lakukan setelah tahu sukses itu kayak bunga? Gw harus disiram? Gw harus dijemur? Analogi-analogi ini cuma hiasan kata yang nggak memberikan nilai apapun.
Kenyataannya, dunia ini nggak berjalan sesuai dengan apa yang lu mau. Nggak peduli seberapa positif mindset lu, nggak peduli seberapa pede lu, ada faktor-faktor eksternal yang nggak bisa lu kontrol sepenuhnya.
Menjual kisah dramatis tanpa konteks lengkap
Strategi favorit para motivator: menceritakan kisah sedih mereka di masa lalu. “Dulu saya susah, hidup di gubuk, makan seadanya. Sekarang saya sukses! Beginilah caranya!” atau “Beginilah cara mendapatkan satu miliar di umur 20 tahun!”
Masalahnya, lu nggak tau perjalanan aslinya dia. Lu nggak tau kegagalan-kegagalan apa aja yang mereka alami, kondisi seperti apa yang mereka hadapi, serta keputusan-keputusan apa yang mereka ambil yang berpengaruh terhadap diri mereka. Yang diceritakan cuma highlight reel-nya doang: versi dramatis dari titik terendah dan titik tertinggi. Prosesnya? Konteksnya? Faktor keberuntungannya? Nggak dijelasin.
apa yang lu jalani dan apa yang mereka jalani itu berbeda. Lu nggak tau apa yang mereka hadapi, apa yang mereka lakukan, dan apa yang mereka alami di balik layar, intekektual setiap orang beda-beda dan konteksnya juga beda-beda. Jadi, cerita mereka itu nggak bisa digeneralisasi ke semua orang. misalnya motivator berbisnis bertemu dengan partner yang bener sedangkan lu nggak punya partner yang bener, ya jelas hasilnya bakal beda. ada faktor keberuntungan yang nggak bisa diukur dan nggak bisa diprediksi. faktor eksternal yang nggak bisa dikontrol itu kenyataan. Jadi, cerita sukses mereka itu bukan formula yang bisa diikuti semua orang.
motivator terus menjual kisah sedihnya dimasa lalu untuk menarik perhatian dan simpati orang lain. Mereka seringkali menonjolkan kesulitan dan penderitaan yang mereka alami sebagai bagian dari cerita sukses mereka. Meskipun ini bisa menjadi inspirasi bagi beberapa orang, tetapi juga bisa membuat orang lain merasa bahwa mereka harus mengalami penderitaan yang sama untuk mencapai kesuksesan. Ini bisa menjadi bentuk penjualan kemiskinan yang tidak sehat, di mana motivator memanfaatkan penderitaan mereka untuk mendapatkan perhatian dan keuntungan pribadi, tanpa memberikan konteks yang lengkap tentang faktor-faktor lain yang mungkin berkontribusi pada kesuksesan mereka.
coba pikirin kenapa kalimat “awalnya saya miskin, sekarang saya sukses” itu laku banget. Orang miskin yang lagi kepepet pasti lebih tertarik: “wah dulu dia susah, sekarang dia sukses… gimana caranya ya?” Cerita itu terasa dekat, terasa relate, dan ngasih harapan.
Tapi masalahnya, kesuksesan belum tentu bisa direplikasi. Yang kita lihat cuma hasil akhirnya, bukan seluruh perjalanan asli: kegagalan-kegagalan yang mereka alamin, keputusan-keputusan yang mereka ambil, timing, bantuan orang lain, sampai faktor keberuntungan. Bahkan kalau dua orang sama-sama “miskin”, konteksnya bisa beda jauh.
Dan coba kalo kisahnya dibalik: “Awalnya saya lahir di keluarga kaya, punya akses pendidikan bagus, relasi ada, lalu akhirnya sukses.” Kemungkinan besar nggak semenarik itu buat dijual. Padahal kenyataannya, banyak orang sukses memang berangkat dari privilege. Jadi dengan terus menjual kisah sedihnya, motivator kadang (sengaja atau nggak) menutupi faktor eksternal itu, dan bikin orang lain merasa seolah-olah mereka tinggal ngikutin rumus yang sama—atau harus menderita dulu biar bisa sukses. Kenyataannya nggak sesederhana itu.
pasti ada yang bilang “tapi kan ada tuh orang-orang yang sukses dari nol, yang nggak punya apa-apa, tapi bisa sukses!” ya memang ada, tapi itu bukan hal biasa yang semua orang bisa. Itu adalah outlier, bukan hal yang bisa digeneralisasi. ada berapa banyak orang yang sukses dari nol? Berapa banyak orang yang punya kisah dramatis seperti itu? Jawabannya: sangat sedikit dibandingkan dengan jumlah orang yang berjuang keras tapi tetap nggak berhasil. itulah kenapa orang kaya itu sedikit sekali dibandingkan dengan jumlah orang yang miskin.
Yang dijual mereka adalah formula instant: ikuti langkah saya, dan lu juga bisa sukses. Padahal kesuksesan itu kompleks dan dipengaruhi banyak faktor yang nggak bisa digeneralisasi begitu saja.
optimisme palsu yang membungkam kenyataan
Sesuatu yang enak didengar belum tentu itu bagus. Motivator itu mengajarkan optimisme dengan kalimat yang manis tapi palsu. Analoginya gini: misalnya ada orang gendut, lu bilang kalo dia kurus padahal mah kagak. Atau ada orang jelas-jelas pendek, lu bilang dia tinggi. Lu bilang begitu biar dia seneng aja kan? Kalimatnya palsu dan membungkam kenyataan.
Ini yang gw sebut sebagai toxic positivity. Mereka mengajarkan untuk selalu berpikir positif, bahkan ketika situasinya jelas-jelas negatif. Mereka bilang “jangan pernah bilang nggak bisa!” padahal ya memang ada hal-hal yang lu nggak bisa lakukan. Dan itu nggak papa.
Mengakui kekurangan kita terhadap sesuatu hal yang kita tidak bisa itu bukan rendah diri, tapi realistis. Kalau gw nggak bisa nyanyi, ya gw akuin aja, daripada maksain jadi penyanyi terus hasilnya malah jelek. Realistis itu penting untuk mengetahui batasan diri dan fokus ke area di mana kita punya potensi.
mengabaikan faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol
Pertanyaan sederhana: misalnya Cristiano Ronaldo lahir di negara Timur Tengah yang lagi perang, apakah dia bisa menjadi sukses seperti sekarang? Jawabannya: kemungkinan besar nggak.
Ini yang nggak pernah dibahas oleh motivator. Mereka seolah-olah kesuksesan itu cuma masalah mindset dan kerja keras. Padahal, ada banyak faktor eksternal yang mempengaruhi kesuksesan seseorang: tempat lahir, kondisi ekonomi keluarga, akses terhadap pendidikan, kesempatan yang tersedia, bahkan keberuntungan.
Steve Jobs lahir di Silicon Valley, bukan di desa terpencil tanpa akses internet. Bill Gates kuliah di Harvard, bukan di kampus yang nggak punya komputer. Konteks itu penting. Privilege itu nyata. Dan mengabaikan faktor-faktor ini adalah bentuk dari penyangkalan terhadap realitas. Motivator seringkali mengabaikan kenyataan ini dan malah menyalahkan individu yang gagal sebagai kurang berusaha atau kurang berpikir positif, padahal mungkin mereka sudah berusaha keras tapi tetap terhambat oleh faktor-faktor eksternal yang di luar kendali mereka.
Jack Ma lahir di keluarga miskin di China, tapi dia beruntung membangun alibaba disaat internet mulai booming. Kalau dia lahir 20 tahun lebih awal, mungkin dia nggak akan pernah sukses. Kalau dia lahir di negara yang nggak punya akses internet, mungkin dia juga nggak akan pernah sukses. Jadi, faktor eksternal itu sangat berpengaruh, Motivator yang terlalu fokus pada aspek internal seperti mindset dan kerja keras tanpa mengakui faktor eksternal yang mempengaruhi kesuksesan bisa membuat orang merasa bersalah atau gagal ketika mereka tidak mencapai kesuksesan, padahal mungkin mereka sudah melakukan yang terbaik dalam situasi mereka.
ya walaupun ada faktor eksternal juga, tapi tetap kita harus kerja keras dan berpikir positif, karena itu adalah hal-hal yang bisa kita kontrol. Kita harus fokus pada apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan diri kita sendiri, daripada terus-terusan menyalahkan faktor eksternal yang nggak bisa kita kontrol. Tapi tetap harus realistis dan akui bahwa ada faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi kesuksesan, dan itu bukan salah kita kalau kita nggak berhasil mencapai kesuksesan yang sama dengan orang lain.
menyasar orang-orang hopeless sebagai coping mechanism
Target pasar utama motivator adalah orang-orang yang sedang dalam kondisi sulit dan merasa putus asa. Mereka mencari penghiburan dalam bentuk harapan. Motivator datang dengan pesan “bermimpilah setinggi langit!” dan orang-orang ini menerima pesan tersebut tanpa pertanyaan kritis.
Kenapa? Karena bagi mereka, berangan-angan adalah bentuk coping mechanism cara untuk menghindari menghadapi kenyataan yang pahit. Daripada berhadapan dengan situasi sulit, lebih mudah membayangkan masa depan yang lebih baik. Motivator menyediakan fantasi yang nyaman, sebuah pelarian dari realitas yang keras.
Masalahnya adalah ketika mimpi tersebut tidak tercapai. Banyak harapan yang akhirnya mengecewakan. Dunia ini penuh dengan kegagalan, dan ketika mimpi tidak terwujud, kekecewaan yang muncul bisa jauh lebih berat daripada sebelumnya.
ya kalo mimpi lu itu tercapai bagus. Tapi kenyataannya? Banyak yang nggak tercapai. Di dunia ini nggak semua hal itu sukses, ada yang namanya kegagalan. Dan ketika mimpi itu nggak tercapai, kekecewaan yang dirasakan bisa lebih parah dari sebelumnya.
fokus pada kesuksesan bukan pembelajaran dari kegagalan
Orang lebih suka melihat yang sukses, padahal di belakang mereka ada jutaan orang yang gagal. Motivator selalu showcase orang-orang yang berhasil, tapi nggak pernah bahas yang gagal.
Dari pengalaman dan pengamatan saya, banyak motivator tidak relevan dengan kebutuhan dan realitas yang dihadapi oleh individu saat ini. Mereka menjual harapan palsu dengan slogan-slogan kosong, mengabaikan faktor-faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol, dan menciptakan optimisme yang justru membungkam kenyataan.
Yang kita butuhkan bukan motivasi instan dan kata-kata manis yang bikin enak didengar. Yang kita butuhkan adalah kejujuran, realisme, dan pemahaman bahwa kegagalan itu normal dan bisa menjadi pembelajaran yang lebih berharga daripada cerita sukses yang dipoles.
Jadi, daripada terus-terusan dengerin motivator yang cuma jual mimpi, lebih baik fokus ke hal-hal yang realistis, akui kekurangan diri sendiri, dan belajar dari kegagalan-kegagalan yang ada. Itu jauh lebih berguna daripada berharap sukses cuma dengan mengandalkan mindset positif dan kepercayaan diri semata.
Banyak motivator yang lebih fokus pada aspek komersialisasi daripada pada membantu orang dalam mengatasi tantangan mereka. Mereka seringkali menjual seminar, buku, dan produk lainnya dengan harga yang tinggi, yang dapat membuat motivasi terasa seperti sebuah bisnis daripada sebuah upaya untuk membantu orang.
menurut saya ini dapat membuat orang merasa bahwa motivator tersebut lebih peduli pada keuntungan finansial daripada pada kesejahteraan mereka. Motivator yang terlalu fokus pada aspek komersialisasi ini dapat membuat orang-orang ngerasa skeptis terhadap niat motivator tersebut, dan mereka mungkin ngerasa bahwa motivasi yang diberikan tidak tulus.
kesimpulannya
Buat saya, alasan kenapa motivator banyak yang nggak relevan itu bukan karena motivasi itu nggak penting. Masalahnya ada di cara mereka menyampaikan dan menjualnya: slogan-slogan kosong yang kedengarannya keren, cerita dramatis yang cuma highlight tanpa konteks, dan optimisme manis yang kadang malah membungkam kenyataan.
Di sisi lain, dunia ini nggak jalan sesuai yang kita mau. Ada faktor eksternal yang nggak bisa kita kontrol (lingkungan, akses, kesempatan, privilege, bahkan keberuntungan). Terus buat orang-orang yang lagi hopeless, motivasi model “bermimpilah setinggi langit” bisa jadi coping mechanism yang nyaman tapi juga berbahaya kalau akhirnya bikin orang lari dari realitas dan makin kecewa ketika nggak tercapai.
Makanya saya lebih percaya pendekatan yang realistis: akui kekurangan itu bukan rendah diri, sadari ada risiko gagal, dan belajar dari kegagalan (karena itu lebih bisa diantisipasi) daripada cuma mengidolakan kisah sukses yang seringnya nggak bisa direplikasi.
tetaplah optimis, tapi jangan sampai optimisme itu jadi penyangkalan terhadap realitas. Kita harus bisa melihat dunia dengan jujur, akui bahwa ada hal-hal yang nggak bisa kita kontrol, dan fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan diri kita sendiri tanpa harus mengandalkan motivasi instan atau kata-kata manis yang nggak realistis.
Referensi
Sangat Menarik untuk ditonton: